Berita

Puasa dan Rasa, Buya KH. Amiruddin MS Ajak Jamaah Raih Taqwa di Bulan Ramadhan

Puasa dan Rasa, Buya KH. Amiruddin MS Ajak Jamaah Raih Taqwa di Bulan Ramadhan

Medan – Ahad, 04 Ramadhan 1447 H / 22 Februari 2026 H, suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al Ihsan yang berlokasi di Jalan Sei Batang Hari, Medan. Dalam momentum Ramadhan yang penuh berkah ini, Buya KH. Amiruddin MS menyampaikan tausiah bertema “Ibadah Puasa dan Rasa” di hadapan para jamaah yang memadati masjid.

Dalam ceramahnya, Buya menegaskan bahwa Ramadhan merupakan hamparan peluang untuk meraup keberkahan yang sengaja Allah SWT hadirkan melalui pergiliran waktu dari bulan ke bulan. Kehadiran bulan suci ini menjadi momentum istimewa bagi umat Islam, bahkan seluruh umat manusia, untuk memperbaiki diri selama satu bulan penuh.

Beliau mengibaratkan Ramadhan sebagai gelanggang musabaqah, arena perlombaan untuk meraih gelar insan termulia di sisi Allah dengan predikat taqwa. Namun, menurutnya, capaian taqwa melalui ibadah puasa bukanlah jalur vertikal yang sunyi dari dampak sosial. Puasa bukan hanya mencari satu “juara”, melainkan membuka peluang seluas-luasnya bagi setiap insan untuk menyandang predikat taqwa.

“Ibadah puasa adalah konsep paedagogik profetik dari Allah SWT, Sang Pencipta dan Pemilik kehidupan. Puasa memiliki dampak empirik dalam kehidupan sosial masyarakat,” ujar Buya.

Dalam penjelasannya, Buya menguraikan beberapa “rasa” yang muncul sebagai hikmah dari ibadah puasa:

Pertama, rasa lapar, haus, lemah dan lesu akibat terhentinya asupan makanan dan minuman. Rasa ini menghadirkan empati terhadap saudara-saudara yang mengalami kelaparan bukan karena berpuasa, tetapi karena kemiskinan. Dari sinilah tumbuh kepedulian terhadap kaum dhuafa.

Kedua, saat menahan lapar dan haus padahal makanan tersedia, lahirlah kejujuran yang bersumber dari muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi. Inilah yang dalam ilmu tasawuf disebut sebagai ihsan, merasa dilihat oleh Allah dalam setiap keadaan.

Ketiga, rasa kebersamaan di hadapan waktu. Sejak fajar hingga maghrib, seluruh umat Islam menjalani durasi puasa yang sama tanpa perbedaan status sosial dan jabatan. Tidak ada yang boleh “mendahului” berbuka. Puasa mendidik kejujuran dan integritas, bahkan dalam hitungan satu menit sekalipun.

Keempat, rasa kedekatan kepada Allah SWT, baik secara fisik maupun psikis. Secara logika, tidak makan dan minum bisa melemahkan bahkan membahayakan kehidupan. Namun faktanya, ibadah puasa tidak membawa kematian, bahkan justru melahirkan semangat dan kekuatan yang lebih besar. Inilah rasa istimewa yang Allah anugerahkan kepada orang-orang yang berpuasa.

Di akhir tausiahnya, Buya mengajak seluruh jamaah untuk berpuasa semata-mata karena Allah SWT. Menurutnya, keberkahan itu nyata dirasakan meskipun tidak terlihat oleh kasat mata. “Berkah adalah nilai atau kualitas yang menghadirkan kebahagiaan. Sedangkan ‘banyak’ hanyalah kuantitas, dan belum tentu membahagiakan,” tutup beliau.

Tausiah tersebut disambut antusias oleh jamaah yang berharap Ramadhan tahun ini menjadi momentum peningkatan iman, empati sosial, dan kedekatan kepada Allah SWT.